Panduan Cepat Hamil

Panduan Cepat Hamil
Cara Pesan Buku Panduan Lengkap Cara Cepat Hamil tersebut, anda tinggal klik gambarnya, nanti isi saja Formulir Pemesanan Paket Cepat Hamil dr Dr.Rosdiana Ramli,SpOG, yang di tahun 2015 ini semakin dipercaya dan telah berhasil menolong banyak pasutri yang sulit hamil sekarang sudah memiliki momongan atau bayi yang lucu - lucu.

Thursday, 22 April 2010

Kesetaraan

Cara Cepat Hamil atau bahkan miris rasanya ketika perempuan memanggul tanggung jawab memperjuangkan kesetaraan bagi kaumnya. Sejatinya, manusia ialah setara. Baik perempuan ataupun lelaki.

Hamil - Namun, kita semua tahu, perempuan mesti berjuang untuk kesetaraan yang sebetulnya taken for granted itu. Tidak banyak lelaki sadar gender, bahkan pada mereka yang berkecimpung dalam pembuatan kebijakan.

"Jadi seharusnya, bukan perempuan yang 'diemansipasikan'. Tapi pemahaman emansipasi itu harus dipupukkan kepada bangsa ini. Perempuan dan lelaki punya kesempatan yang sama. Soal prestasi, biarkan kapabilitas dan integritas masing-masing yang menentukan. Pola pikir masyarakat harus dirombak total," kata Eva Kusuma Sundari di ruang tunggu Komisi XI DPR RI saat istirahat rapat kerja dengan Kementerian Keuangan, pekan lalu.

Eva ialah satu dari 18% perempuan yang kini duduk di bangku dewan. Besar harapan Eva agar target minimal 30% perempuan bisa tercapai pada pemilu mendatang.

Eva menepis penilaian banyak pihak yang menyebutkan peran politik perempuan di tingkat nasional dewasa ini sudah memuaskan. Di matanya, pencapaian itu belumlah seperti yang dia harapkan.

Dalam politik, kuantitas merupakan kekuatan utama. Jadi, representasi kaum perempuan yang lebih besar akan memperkuat upaya untuk melanjutkan persamaan hak manusia.

"Dalam pembahasan UU MD3 (MPR, DPR, DPD dan DPRD) saya dikeroyok ketika mengusulkan harus ada representasi perempuan di pimpinan parlemen. Yang kemudian masuk hanya ketentuan 'dapat' dalam aturan itu," tutur politikus PDI Perjuangan itu.

Minoritas

Di DPR, Eva biasa menjadi minoritas. Dalam tim Pansus Hak Angket Kasus Bank Century, Eva sendirian saja setelah anggota perempuan lainnya, Anna Muawanah, ditarik F-PKB saat pansus memasuki minggu keenam.

Dia yang mewakili partai oposisi itu tidak canggung melontarkan kritik pedas kepada pemerintahan SBY-Boediono dan menyuarakan pemanggilan terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat bergulirnya pansus.

Selama aktif di pansus selama 60 hari kerja, Eva menghadapi beragam tekanan dan ancaman. Rumahnya sempat diintai selama beberapa hari.

"Ada SMS teror ke saya, katanya rumah dan seluruh aktivitas saya dalam pengawasan," ujar ibu dua anak, Maria dan Dani, itu.

Eva pantang mundur. Setelah Pansus Century berakhir, Eva juga ikut mendukung penggunaan hak menyatakan pendapat sebagai tindak lanjut kasus Bank Century.

Toh sejak jadi anggota dewan, Eva jadi biasa 'menelan' teror pesan pendek yang masuk ke telepon selulernya. Misalnya ketika ia terlibat dalam Pansus Pembahasan RUU Pornografi. "Ada SMS yang menyebutkan kami tidak islami," kata Eva.

Hingga saat ini, enam RUU telah dihasilkannya selama lima tahun sebagai legislator. Tak kurang dari 54 pansus telah diselesaikannya. Sebuah rekam jejak yang sulit ditorehkan jika Eva hanya mengandalkan keistimewaan sebagai perempuan yang masuk parlemen berkat affirmative action.

"Ketika sudah masuk di parlemen, affirmative action tidak berlaku lagi. Fraksi menunjuk anggota untuk masuk alat kelengkapan DPR karena pertimbangan kapabilitasnya, bukan lagi karena yang bersangkutan perempuan," ujar peraih gelar master of science (MSc) bidang ekonomi pembangunan dari University of Nottingham, Inggris, ini.

Tentu, lanjut Eva, fraksi tidak mau mengorbankan misinya hanya karena pertimbangan gender. "Begitu masuk penugasan, yang dipertaruhkan bukan lagi gender. Fraksi melihat dari segi adakah risiko jika memasukkan orang ini atau orang itu dalam satu alat kelengkapan DPR," tuturnya.

Jelas di mata Eva, affirmative actionhanya sebuah pintu masuk. Ketika sudah masuk, perempuan juga harus membuktikan diri. ''Jika ada perempuan yang aktif dan tidak bodoh, inilah yang bisa mengubah stigma masyarakat bahwa perempuan juga sama dengan laki-laki,'' tukas Eva.

Perempuan pergerakan

Memperjuangkan hak perempuan sebagai manusia yang setara bukan hal baru bagi Eva. Sejak kuliah dia sudah melakukan advokasi. Sebagian besar waktunya ia habiskan di GMNI, advokasi buruh dan perempuan. Ia juga aktif di organisasi pandu. ''Energiku banyak hilang. Tidak adalah waktu pacaran. Tiap hari pulang jam empat pagi,'' kata Eva. Dengan belajar dari pengalaman, ia membuktikan sendiri bahwa setiap kaum harus memperjuangkan nasib masingmasing.

"Kebesaran bangsa dan kemakmuran tidak jatuh gratis dari langit. Kebesaran bangsa dan kemakmuran selalu kristalisasi keringat," kata Eva menirukan amanat Bung Karno yang terpampang di dinding ruang kerjanya.

Dia gelisah. Dikotomi kemanusiaan masih nyata terjadi di masyarakat meski Eva berjurang generasi dengan Kartini yang juga menggemakan kesetaraan. "Saya melihat Kartini bukan sekadar sebagai tokoh feminis dan emansipasitoris. Lebih dari itu dia adalah tokoh kemanusiaan dan kebangsaan," ujar Eva.

Bukan cuma Kartini yang ia hargai. Di ruang kerjanya, di ruang 728 Gedung Nusantara I, Kompleks Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Eva memajang dua gambar besar pejuang demokrasi Aung San Suu Kyi. Satu gambar berada tepat di depan pintu masuk dan lainnya berada di depan meja kerja Eva.

"Saya ingin api semangat dan gejolak jiwa para perempuan hebat di dunia ini terus dijaga kobarnya," ungkap Eva.

No comments:

Post a Comment